Selasa, 15 November 2011

Mengenalkan Darah Haidh

Mengenalkan Darah Haidh

Haid atau menstruasi adalah suatu hal alamiah yang akan dialami oleh para perempuan yang menginjak dewasa. Bahkan ia sebagai petunjuk bahwa perempuan tersebut telah baligh, yang artinya bahwa perempuan tersebut sudah dikenai kewajiban syariat dalam Islam. Oleh karena masalah ini sangat penting, maka menjadi kewajiban Abu dan Ummu untuk mengajarkan masalah ini kepada anak perempuannya.
Abu dan Ummu, berikan pengertian kepada anak perempuan kita ketika terjadi haid pertama kali, bahwa hal itu wajar dan biasa akan dialami oleh semua perempuan. Oleh karena itu tidak usah bingung dan takut ketika mendapati yang demikian itu. Sampaikan juga bahwa lamanya waktu haid itu berbeda-beda antara perempuan satu dengan yang lainnya. Sedikitnya sehari semalam dan paling lama lima belas hari, atau sampai enam hingga tujuh hari. Berikan pengertian juga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia telah baligh dan siap untuk dikenai beban kewajiban syariat Islam.

Macam-macam Haid

Abu dan Ummu, sampaikan juga kepada anak perempuan kita bahwa perempuan ketika mengalami haid ada tiga macam, yaitu haid permulaan, haid yang biasa, serta haid darah penyakit. Masing-masing memiliki hukum tersendiri.
Adapun yang disebut haid permulaan, yaitu perempuan yang melihat darahnya untuk pertama kali. Hukumnya, bila ia melihat darah hendaklah meninggalkan shalat dan puasa, dan menunggu hingga suci. Bila ia melihat darah itu berhenti setelah sehari semalam atau sampai lima belas hari, hendaklah ia mandi dan mengerjakan shalat. Apabila darah itu keluar lebih dari lima belas hari, harus dianggap darah penyakit dan sesudah itu hukumnya menjadi istihadah (perempuan haid karena penyakit).
Bila darah perempuan itu berhenti di pertengahan lima belas hari, lalu keluar lagi satu atau dua hari, dan berhenti lagi seperti itu, maka hendaklah ia mandi dan shalat selama bersih dan bila datang lagi, maka hentikan shalatnya. Perempuan yang sudah biasa haid pada waktu tertentu dalam sebulan, maka hukumnya yaitu tinggalkan shalat, puasa selama haid seperti biasanya. Bila dia masih kuning atau keruh sesudah kebiasaannya, maka jangan hiraukan, hal ini berdasar pada kata-kata Ummu ‘Atiyyah, ia berkata, “Kami tidak menganggap apa-apa jika ada seperti darah kuning atau keruh setelah suci.” (riwayat Bukhari)
Adapun bila melihat pada kebiasaannya ada kuning atau keruh, maka itu masih dalam keadaan haid dan janganlah mandi, shalat dan puasa.
Abu dan Ummu, yang dimaksud perempuan mustahadah (haid karena penyakit) adalah perempuan yang darahnya tidak berhenti. Hukumnya ialah jika darah istihadah itu biasa dan diketahui kebiasaannya, maka ia berhenti shalat pada hari-hari kebiasaannya pada setiap bulan. Dan sesudah darah berhenti ia pun mandi, shalat, dan puasa. Bila tidak biasanya atau biasa tapi lupa waktunya atau bilangan harinya, hendaklah ia membedakan darahnya. Apabila sekali hitam dan sekali merah, maka ia tidak shalat waktu keluar darah hitam. Kemudian hendaknya dirinya mandi dan shalat sesudah terhenti berdarah, selagi tidak melebihi masa lima belas hari.
(abu saudah)

Antara Halal & Haram Ada Syubhat

Antara Halal & Haram Ada Syubhat

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وإنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ ، وبَينَهُما أُمُورٌ مُشتَبهاتٌ ، لا يَعْلَمُهنّ كثيرٌ مِن النَّاسِ ، فَمَن اتَّقى الشُّبهاتِ استبرأ لِدينِهِ وعِرضِه ، ومَنْ وَقَعَ في الشُّبُهاتِ وَقَعَ في الحَرَامِ ، كالرَّاعي يَرعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرتَعَ [...]

Senin, 14 November 2011

NIKAH = IBADAH

sekedar berbagi tulisan sederhana yang jauh dari kesempurnaan. semoga manfa'at

Nikah didalam Islam memiliki banyak maksud dan tujuan yang sangat mendasar, diantaranya adalah :

1. Nikah sbg sarana untuk melampiaskan kebutuhan biologis, karena Allah pencipta manusia tentu Maha Tahu akan kebutuhan hamba-Nya. Manusia diberi nafsu, maka Allahpun memberikan koridor untuk mengalirkan nafsu tersebut pada tempat yang sebenarnya, nafsu makan tentu harus dipenuhi hasratnya, tapi ada aturan dan ketentuannya, seperti makan yang halalan thoyyiban, tidak berlebihan, dlsb. begitupun dengan nafsu biologis ini, yang memang built in Allah setting dlm diri manusia. untuk itu Allah sediakan sebuah lembaga yang suci dan sakral yang bernama NIKAH, ingat kata kata dalam film monumental ayat ayat cinta ketika Noura menulis surat untuik pujaan hatinya Fakhri “ aku ingin menjadi yang halal bagimu untuk kau cumbu... ” hhh maa syaaallah, itu artinya apa “ nikahi aku mas ” tapi ingat, melampiaskan hasrat biologis bukan tujuan utama dari pernikahan, sebab kalau Cuma itu, maka akan banyak orang yang akan dengan mudahnya menikah dengan alasan tersebut.

2. Nikah adalah cara untuk mengembanmg biakkan keturunan

تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ اِنِِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلاُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah olehmu wanita yang subur dan mencintai, sesungguhnya aku berbangga sekali dengan banyaknya ummatku dihari qiyamat nanti " (HR.Muslim)

Namun inipun bukan tujuan PALING INTI dari sebuah pernikahan, karena kalau ini yang jadi tujuan utamanya lalu bagaimana dengan pasangan yang belum dan tidak dikarunia keturunan?

3. Nikah adalah ibadah. Inilah tujuan pernikahan yang paling hakiki. Nabi bersabda :

اِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِيْنِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِصْفِ الْبَاقِي

" Apabila seorang hamba telah menikah maka ia berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertaqwalah kepada Allah untuk mendapat separuh yang tersisa "

Bayangkan, tidak tanggung tanggung, dengan menikah maka kita sudah meraih separuh nilai keagamaan kita, dengan kata lain, ibarat sebuah gelas, jika ada orang sudah sholat, sudah puasa, berzakat dan berhaji tapi belum nikah, berarti dia baru dapat separuh dari nilai agamanya ( belum sempurna ),

ada sebuah dialog ringan seorang sahabat yg bertanya kepada Rasulnya, “ya Rasul, kalau saya berhubungan dengan wanita yang bukan istri saya ? “ Nabi menjawab “ dosa besaar “, “ kalau dengan istri saya ? “ Nabi melanjutkan “ dan pada setiap kehormatan isteri terdapat pahala bershodaqoh “

kalau ini yang jadi landasan, subhaanallah saya yakin banyak rumah tangga yang akan hidup bahagia. Yang jadi persoalan sekarang adalah, karena nikah itu ibadah, dan ibadah itu hanya akan diterima disisi Allah jika dilandasi dengan ilmunya, dengan bahasa lain, kalau pernikahan itu mau menjadi ibadah yang diterima, dan juga mampu mengantarkan seseorang ke gerbang bahagia dan sakinah maka harus tahu ilmunya terlebih dahulu, apa itu ilmunya ? mari kita lihat … dalam ayat yang sering dibaca oleh qori dlm acara aqad nikah, disitu disebutkan bahwa kalau rumah tangga mau sakinah mau landasannya ada 3 :

1. Mawaddah, artinya cinta, cinta memang harus ada dalam sebuah pernikahan, mawaddah identik dengan kecintaan dan rasa suka pada fisic dan outer beauty, ini mungkin yang dikatakan dalam sebuah syi'ír :

عَيْنُ الرِضَي عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ # كَمَا اَنَّّ عَيْنَ السُخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَ
Mata yang terbungkus cinta tak pernah memandang hina kekasihnya
Seperti halnya mata yang diselimuti benci selalu melihat yang ia tidak sukai


keindahan fisik akan segera berubah seiring perjalanan waktu, berputarnya masa, lambat laun mawaddah mungkin saja segera sirna saat pasangan hidupnya dimakan usia, karena itu harus ada MODAL yang kedua yaitu :

2. Rahmah, adalah kasih sayang yang muncul karena ketidak berdayaan seseorang, jadi boleh dikatakan rahmah itu adalah rasa kasihan terhadap pasangan hidup. Coba tanya kepada pengantin lama, apa yang menjadi perekat teli temali hubungan rumah tangga mereka ? rata rata jawabannya adalah “ kalau dulu sih karna cantiknya, tapi sekarang, saya kasihan melihat perjuangan dan pengorbanan istri selama ini “ istri sudah merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan. Dan harus diingat, itu jika pasangannya berakhlaq mulia, jadi kalau mawaddah identik dengan kecintaan terhadap fisik, maka rahmah identik dengan inner beauty, kecantikan budi, keindahan pekerti.

Bangunan rumah tangga akan semakin kokoh jika ditambah dengan modal yang ketiga yaitu amanah,,,

3. Amanah, nikah itu amanah sebagaimana yang Nabi sabdakan :

اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِاَمَانَةِ اللهِ

Kalian ( laki laki ) telah mengambil istri istri kalian dengan
sebuah amanah besar dari Allah

Maa syaa-allah, ketahuilah wahai saudaraku, saat aqad nikah yang menjadi saksi pernikahan bukan Cuma yang menanda tangani di surat nikah, bukan Cuma bapak penghulu, tetamu, sanak famili dan handai taulan yang menyaksikan, tapi lebih dari itu, malaikat dan Allah secara langsung ikut menyaksikan penyerahan amanah besar ini, karena itu jaga baik baik amanah Allah tersebut, sebab tanggung jawabnya teramat besar disisi Allah jika kita menyianyiakan amanah.

ingat pesan Nabi, kalau ingin hidup rumah tangga bahagia, hiasi dan terangi rumah kalian dengan shalat dan bacaan al quran, mafhum mukholafahnya, tidak pernah bahagia, tidak akan pernah sakinah rumah tangga yang bergelimang harta tapi penghuninya berisikan orang orang yang suka mempermainkan shalat. Lalu budayakan pergaulan yang baik, saling mengisi dan menyadari kekurangan yang dimiliki pasangan kita, ingat pasangan kita bukan malaikat, dia manusia biasa yang bisa salah, bisa lupa dan bisa saja keliru. Ketahuilah ! Nikah itu pintu rizqi dan keberkahan, tapi jika kita tahu kunci pembuka keberkahan itu, apakah kunci pintu rizki dan keberkahan itu ? ibu dan Ayah… carilah barokah pada keduanya, dulu sebelum nikah mamah ayah kita Cuma satu, sekarang sesudah menikah ibu ayah kita jadi dua, ingat ridho Allah bergantung ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada marahnya orang tua, tidak akan pernah bahagia seorang hamba, malang melintang diatas dunia, sepintar apapun dia, sehebat apapun dirinya, sebanyak apapun harta kekayaannya, jika dia durhaka kepada orang tua.

Hikmah dan manfa'at lain dari nikah adalah nikah membawa berkah sebagimana Allah menjanjikan itu dalam firman-Nya :

" dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui". (QS. Annuur : 32)

- Nikah menjadi benteng dari zinah... bersambung. semoga manfa'at...

Wallohu a'lam..

MENIKAH ITU IBADAH

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, "Bila seorang
menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa." (HR. Baihaqi, hadits Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah
menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi) . Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa
terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan
Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai
cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku
Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang
menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi'un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan
Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, "Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup." Al-Qurthubi berkata, "Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan." (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami'
liahkamil Qur'an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, "Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi." (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di
antaranya: "Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan." (HR. Turmudzi dan Nasa'i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, "Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat." (lihat Siyar A'lamun Nubala' oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada
Allah dengan membangun pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis
nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya
ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu
Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba'dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu -untuk mencari ilmu-, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan
fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah
kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang
harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah
juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.

Kesimpulan
Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian "pernikahan sebagai beban" ke "pernikahan sebagai ibadah". Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba "jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah". Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk
mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan.

Wallahu a'lam bishshawab.